SuaraSoneta.Com

Live Streaming full 100% lagu-lagu Rhoma Irama & Soneta hanya di www.suarasoneta.com

Live Support

Untuk Info Lebih Lanjut,Sahabat bisa PM Salahsatu Alternatif dibawah ini
YudiKelana        Admin
Muhamad Nur    Admin

Soleh Mohamad Moderator
Bobby Mulyadi   Bendahara

 

Like FanPage SONIA



Jumlah Pengunjung Web Sonia

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari Ini1422
mod_vvisit_counterKemaren1509
mod_vvisit_counterMinggu Ini7329
mod_vvisit_counterBulan Ini18237
mod_vvisit_counterSemua941452

_____________________

Komentar Terakhir

SONIA


Dangdut Masuk Rumah Gedongan

Meskipun masih malu-malu kucing, penggemar dangdut dari kalangan atas terus meningkat. Penyanyinya pun dari kalangan gedongan. Gara-gara orang Barat menyukai lebih dulu?

Anda suka musik dangdut? Ketika pertanyaan ini diedarkan di kalangan profesional, jawabannya mengejutkan. "Saya suka, kok," kata seorang pria, staf pemasaran di sebuah kantor swasta. Beberapa pria muda juga tak segan-segan menyatakan suka musik dangdut.

Yang wanita? Jawabannya agak berbeda. "Saya suka, asal syairnya nggak cengeng dan penyanyinya nggak norak," kata seorang sekretaris muda. "Saya punya koleksi beberapa kaset disko dangdut," kata seorang mahasiswi perguruan tinggi Negeri. Tapi ketika tahu diwawancara oleh media, dia buru-buru menambahkan, "Nama saya jangan ditulis, lho. Malu."

Di tempat lain, seorang karyawan toko kaset yang cukup besar di Jakarta bercerita, "Banyak sopir cari kaset dangdut kemari. Bukan untuk dirinya sendiri, tapi dia disuruh bosnya. Mungkin sang bos malu bila membeli sendiri."

Ternyata, reaksi unik ini, suka tapi malu, memang banyak dilontarkan orang-orang yang dihubungi femina. Namun dari mereka tersirat bahwa dangdut sekarang telah punya gengsi. Berbeda dengan 10 tahun yang lalu misalnya, dangdut masih dipandang sebelah mata oleh masyarakat kelas menengah ke atas.

Tampang gedongan

Naiknya citra dangdut tak cuma dari segi lirik dan dinamika musiknya, tapi juga para penyanyinya. "Reynold dan Camelia Malik misalnya, jelas bukan dari kalangan bawah. Kini juga ada Trio BAM yang cantik-cantik, tampangnya gedongan, ada yang mahasiswi Perbanas, tapi mereka nggak malu berdangdut," ujar Bens Leo pengamat musik.

"Nggak relevan lagi menyebut dangdut sebagai musik kelas bawah," ucap seorang penyanyi Camelia Malik dengan nada ketus. Menurut Nyonya Harry Capri ini citra dangdut sedang bergeser ke atas. Musik ini muncul di mana-mana. Diskotek yang nyaris didominasi musik Barat dan cenderung untuk kalangan atas, kini juga diserbu dangdut. Para pejogetnya pun tak segan-segan meliuk-liukkan tubuh mengikuti irama dangdut yang memang mengasyikkan itu. Manari Pub yang menggelar dangdut dua kali seminggu, penggemarnya bermobil.

Radio khusus dangdut pun bermunculan. Di Jakarta misalnya, ada Radio Agustina di jalur AM dan Radio Sakti Budi Bakti di jalur FM Stereo. Akhir Mei lalu, Pangdam Jaya Mayjen Hendropriyono meresmikan FM Muara, radio dengan spesialisasi dangdut, merupakan usahabersama pasangan Camelia Malik dan Harry Capri, dengan Rhoma Irama, serta Sys NS.

Di bisnis rekaman, tak kurang dari 20 kaset dangdut baru terbit tiap bulan. "Ini berarti sepertiga dari seluruh kaset berbagai jenis musik yang dirilis tiap bulan," ungkap seorang pedagang di Harco Glodok, Jakarta.

Pemusik dan penyanyi baru pun bermunculan seperti Ona Sutra dan Vety Vera. Sementara nama Rhoma Irama, Elvie Sukaesih dan Camelia Malik terus berkibar. Bahkan banyak penyanyi pop mengutip rezeki 'tetangga' macam Heidy Diana dengan Di Mana Ada Kamu Di Situ Ada Aku yang disebut pop dangdut. Ini semua cerminan berjayanya dangdut dalam bidang musik rekaman.

Dinamika dangdut

Dulu sebelum muncul istilah dangdut, sebutannya irama Semenanjung atau irama Melayu. Banyak orang juga menyebutnya irama Deli. Tahun 50-an, ketika film-film India menyerbu Indonesia, musik Melayu terpengaruh, terutama dalam hentakan suara gendangnya.

Saat itu muncul Ellya Khadam dengan lagu-lagu Melayu yang beraksen India. Boneka Dari India yang dinyanyikannya, beken hingga ke negeri jiran. Istilah dangdut baru muncul tahun 70-an. Awalnya cuma ejekan yang dilontarkan Billi Silabumi di majalah Aktuil (majalah musik bergengsi tahun 70-an) terhadap corak musik yang disertai gendang yang khas, seperti lazimnya pada musik film India.

Dangdut yang sebagian besar pendengarnya adalah kalangan bawah, saat itu memang sering diserang sebagai musik kacang goreng. Bahkan dari catatan yang ada, pada dasawarsa 70-an itu sempat terjadi 'perang' antara musik rock dan dangdut yang ketika itu dikibarkan Benny Soebardja, gitaris grup rock Giant Step.

Walau diserang kiri-kanan, dangdut tetap hidup subur. Satu yang gigih membela dangdut adalah Rhoma Irama. Mendirikan grup Orkes Melayu (OM) Soneta tahun 1973, Rhoma menghadapi sikap antipati itu dengan terobosan-terobosan baru. "Ia memasukkan unsur-unsur rock ke dalam khasanah dangdut." Ungkap Bens Leo.

Dari tangan Rhoma lahir new dangdut yang kemudian beken sebagai rock dangdut. Rhoma sendiri menyebutnya dynamic dangdut. Ia sengaja memberi sentuhan rock ke dalam irama dangdut. "Saya mengambil semangatnya, dinamikanya," katanya di studionya di Depok, medio Juni lalu.

Instrumen musik dangdut yang 'kuno' pun ia lengkapi dengan peralatan listrik bertenaga besar. Alat tiup seperti saksofon, dan keyboard, ia gunakan. "Ini tak pernah terjadi sebelumnya. Soneta tampil tegar, tak kalah dengan grup rock," kata Bens Leo.

Rhoma tak berhenti pada inovasi melodi musik rock, tapi juga pada lirik. Lagu dangdut yang cenderung erotis dan merengek-rengek ia jauhi. Ia tampil dengan aransemen yang lebih segar, dengan lirik yang tak sekadar ratapan.

Go Internasional

"Tema-tema sosial dan lingkungan hidup, tema-tema dakwah Islam, digarap dan disampaikannya dengan pesan yang enak, sederhana dan tidak menggurui. Musik Rhoma adalah musik yang penggemarnya terbesar di Indonesia, hingga saat ini," lanjut Bens. Begitu populernya Rhoma sampai majalah musik bergengsi, Billboard, khusus mengirim wartawannya dari Singapura untuk menonton pagelaran musik Rhoma. Tepatlah ia dijuluki Raja Dangdut, dan profilnya ditulis di majalah Newsweek.

Ternyata musik Rhoma juga menarik perhatian Prof. William H Frederick. Doktor Sosiologi Universitas Ohio, AS, itu melakukan penelitian khusus tentang musik Rhoma Irama. Dari disertasinya itu lagu dangdut kian dikenal di luar Indonesia, khususnya Amerika.

Pembaruan di jalur dangdut tak berhenti. Menyusul Rhoma yang terus berjaya, tahun 1985 muncul inovasi baru dari tangan Reynold Panggabean dengan OM Tarantulla. Mantan penabuh drum grup band The Mercy's ini masuk ke jalur dangdut dengan menggabungkan musik dangdut dengan musik Timur Tengah, dan rock. Bahkan untuk rekaman, Tarantulla sempat didukung musisi rock beneran seperti Harry Anggoman dan Ian Antono. Bens Leo menyebutnya dangdut Latin, karena unsur perkusi yang dominan dengan gaya-pukul yang khas Amerika Latin.

Sebagaimana Rhoma, Reynold dan Tarantulla-nya jugatak cuma bagus di rekaman. "Live show mereka juga mampu menyuguhkan penampilan yang spektakuler, bukan erotisme lagi. Erotisme di sini misalnya, penyanyinya berbusana seronok. Akibatnya penonton akan terpaku pada penyanyinya, bukan pada lagunya. Rhoma dan Reynold tidak melakukan hal itu. Penampilan Soneta ataupun Tarantulla saat itu benar-benar spektakuler," kata Bens. Aksi panggung yang luar biasa, peralatan musik, sound system dan lighting-nya sangat canggih.

Disko Dangdut

Reynold juga melakukan langkah yang sangat di luar dugaan orang. Bersama Camelia Malik (yang saat itu masih menjadi isterinya) yang antara lain menyanyikan Colak-colek, Wakuncar, dan Gengsi Dong, tahun 1986 dia go international. Ia ngamen ke Tokyo, Jepang. "Gedung Shibuya yang berkapasitas seribu orang, penuh penonton. Karcisnya ketika itu dijual rata-rata Rp 60.000," kenang Camelia Malik.

Untuk mengangkat dangdut dengan warna Indonesia, mereka tampil dengan kostum wayang orang. Reynold berkostum Gatutkaca, satu penampilan yang mendapat sambutan tersendiri. Lagu-lagu yang digelar juga direkam dalam bentuk kaset can compact disc (CD) oleh promotor pertunjukan. Sejak lama, diam-diam Jepang memang suka dangdut. Jauh sebelum Reynold dan Camelia masuk Tokyo, kaset dangdut Indonesia beredar luas di negeri itu.

Menyusul Reynold dan Camelia, Rhoma juga sukses di Jepang. "Tahun-tahun itu, kami juga dapat undangan untuk tampil dalam Festival Musim Panas di Inggris dan Amerika Serikat," ungkap Rhoma. Tapi karena berbagai hal, hingga kini Rhoma dan OM Soneta belum bisa memenuhi undangan tersebut.

"Irama dangdut itu fleksibel. Ia tak menutup kemungkinan bersentuhan dengan irama musik jenis lain yang ada," papar Rhoma. Bisa jadi benar. Sebab kenyataannya, nyaris tak ada lagu jenis musik lain yang tak bisa didangdutkan. Sementara lagu dangdut, belum tentu bisa dibawakan secara jazz ataupun rock. Rhoma (juga Reynold) telah membuktikan betapa unsur-unsur rock bisa masuk ke dalam karya musik mereka.

Belakangan ini Reynold dan Tarantulla tak terdengar kiprahnya. Tapi musik dangdut tidak mati. Rhoma Irama tetap berkibar, dan pembaruan tak pernah berhenti. Tahun 90-an muncul lagu-lagu dangdut bergaya disko. Lagu-lagu ini ternyata tak cuma menembus diskotek-diskotek di banyak kota, tapi juga didendangkan banyak kalangan yang tadinya bukan penyanyi dangdut.

Lagu-lagu disko dangdut antara lain Pusing Lagi yang dinyanyikan Anis Marsella populer di mana-mana. Juga lagu Makin Gila yang dinyanyikan Ati Adiati yang berhasil meraih tiga penghargaan BASF award 1992. Sebagai produk rekaman, lagu ini tergolong mengejutkan, kasetnya terjual sekitar sejuta buah.

Alasan klise

"Roh" dangdut tak sepenuhnya tumbuh dalam studio. Di panggung, musik ini bisa begitu hidup, menggali langsung dari semangat masyarakat yang menyukainya. Ia didukung oleh begitu banyak grup-grup kecil yang melata di berbagai daerah. Sulit bagi grup kecil itu melepas goyang erotis atau menyanyikan ratapan. Sementara kaset ratapan terus diproduksi dengan alasan klise: Mewakili masyarakat luas yang memang tak bisa lain kecuali meratap dan bermimpi.

"Cacat" ini bukan tak disadari oleh para praktisi dangdut. Berbagai upaya membina diri terus dilakukan. Persatuan Artis Musik Melayu Indonesia (PAMMI) terbentuk. PAMMI pula yang menyelenggarakan ajang kreatif Lomba Cipta Lagu Dangdut (LCLD) yang diselenggarakan rutin dua tahun sekali.

Menurut Rhoma Irama, "Lomba ini diselenggarakan untuk meningkatkan citra dangdut yang agak kacau karena ulah sebagian oknum pemusik sendiri." Maksudnya, dangdut sebenarnya bisa bersih dari unsur mabuk, goyang erotik, dan cap negatif lainnya.

Lewat arena LCLD diharapkan dangdut bisa sejajar dengan musik-musik lain, di samping dapat merangsang kreativitas para penggubah lagu dangdut. Kreativitas dalam menggubah lagu maupun aransemen merupakan syarat agar musik dangdut berkembang dan diterima masyarakat lebih luas. Terakhir, LCLD IV/94 diselenggarakan di hotel berbintang, Grand Hyatt Surabaya.

"Saya tidak gelisah dengan disko dangdut yang sekarang lebih menonjol," komentar Camelia Malik tentang kiprah para yuniornya yang mendominasi percaturan musik Indonesia dua tahun terakhir ini. Mia melihat hal ini sebagai perkembangan sesuai dengan zaman.

"Anak-anak muda tak mungkin diajak mundur ke tahun 70-an untuk menyukai lagu-lagu S. Effendy misalnya. Dangdut mereka, ya dangdut disko. Biar mereka berkembang dengan identitas mereka sendiri," tutur Mia yang pernah menggoyang Kerajaan Brunei, Malaysia bahkan di depan 27 kepala negara peserta KTT Non-Blok di Jakarta, dua tahun lalu.

Elvie mengalahkan Madonna?

Inovasi kreatif memang membuat dangdut jadi lebih variatif. Bens Leo mengatakan, "Dangdut yang statis, cuma puas dengan pakem yang ada, akan kehilangan penggemarnya."

Begitukah? Masyarakat boleh memilih, yang gaya disko atau dangdut dinamis garapan Rhoma. Dangdut konvensional, dengan penggemar tradisionalnya, juga bertahan. "Bahkan di luar negeri, dangdut konvensional ini pun memperoleh tempat. Tak cuma di Jepang, beberapa perusahaan rekaman di AS juga memasarkan CD-nya," tutur Bens Leo.

Elvie Sukaesih yang konvensional, tahun 1991 memang sukses menggoyang penonton gedung Shibuya, Tokyo. Bahkan majalah musik bergengsi Japan Music Magazine memberi Elvie penghargaan sensasional sebagai The Best Tokyo Live Show 1991. Padahal tahun yang sama artis kondang dunia, Madonna juga pentas di Jepang.

Jepang memang ibarat rumah dengan pintu terbuka bagi dangdut. Lagu Kopi Dangdut (dinyanyikan oleh Fahmi Shahab dan Elly Sanjaya) yang laris di Indonesia, juga diedarkan di Jepang dalam bentuk CD.

Akhir April lalu, Rhoma Irama juga menandatangani Memorandum of Understanding dengan Tanaka dari Life Record Jepang di Tokyo. Sebanyak 200 buah judul lagunya akan direkam ke dalam bahasa Inggris dan Jepang, untuk diedarkan di pasar Internasional. Rencananya lagu-lagu itu dibuat dalam bentuk laser disc (LD) dan compact disc (CD).

Mungkinkah musik kelas marjinal ini sukses menembus pasaran dunia? "Kenapa tidak?" tukas Bens Leo. "Kita seharusnya bangga bahwa ada musik yang digali dari khasanah Indonesia yang sangat disukai hingga jauh ke Jepang. Perlu diingat, Jepang adalah satu dari tiga negara selain AS dan Inggris, yang selama ini menjadi tolok ukur untuk suksesnya musik dunia," lanjut Bens. Berarti dangdut sudah memasuki sepertiga tolok ukur dunia.

Nah, Anda suka dangdut?

Majalah Femina, No. 26/XXII, 7 - 13 Juli 1994, Sumber : Aa Haq

Dangdut Masuk Rumah Gedongan
 

Add comment


Security code
Refresh